Perlunya Berprinsip

Saya mempunyai seorang sahabat dekat. Seorang perempuan di usia 20 tahunan.

Sahabat saya ini sekarang sedang meneruskan studi nya di Melbourne, Australia. Kurang lebih setahun sudah ia tinggal di negara tersebut.

Baru-baru ini saya menyambanginya. Ia tinggal di apartemen seorang diri. Sebagai orang yang saya tahu tidak pernah meninggalkan keluarga untuk kurun waktu yang lama, saya kagum dengan kemandirian sahabat saya ini. Apartemen yang ia tempati pada awalnya merupakan apartemen yang disewakan tanpa perabot. Ketika saya berkunjung, saya melihat betapa cantik dan rapi unit apartemennya yang ia tata sendiri. Sebagai orang yang saya tahu memiliki beberapa asisten rumah tangga di tempat asalnya pun, ia terlihat luwes membersihkan dan merawat tempat tinggalnya. Begitu juga dalam hal memasak.

Sosok sahabat saya ini pun dengan rajin pamit untuk menjalankan shalat lima waktu setiap kali aplikasi pengingat shalatdi telepon selulernya berbunyi. Walaupun tinggal di negara dimana agamanya merupakan minoritas, ia tidak melupakan kewajibannya untuk beribadah. Saya sangat menghormati apa yang ia lakukan.

Ketika sahabat-sahabat dekatnya dari negara asal menikmati kebebasan dunia barat dengan rajn menyambangi club, menenggak alkohol, dan mencicipi obat-obatan terlarang, sahabat saya memilih untuk berada di rumah. Ia lebih senang berkomunikasi melalui online media dengan kekasihnya yang berada di Indonesia.

Pada waktu saya mengunjunginya, teman-teman sebayanya sedang merayakan 4/20. Saya pun baru mengerti dari sahabat saya ini bahwa 4/20 adalah hari Marijuana, dimana orang-orang turut serta melebur dalam perayaan di hari itu dengan menikmati ganja. Saya sungguh bersyukur, saya dan sahabat saya justru sibuk berjalan-jalan dan mencicipi masakan di restoran yang ia rekomendasi di kota pada saat itu.

Saya juga mempunyai seorang sahabat dekat di Cologne, Jerman. Seorang lelaki Muslim. Seperti sahabat saya yang berada di Australia, ia pun tidak pernah lalai menunaikan ibadah shalat, baik di Indonesia, maupun di Jerman. Sahabat saya ini tidak pernah tergoda mencicipi makanan yang mengandung babi, sebagai bentuk keteguhan dalam menaati apa yang tidak dianjurkan di agamanya. Ia pun tidak pernah berkeinginan untuk mencicipi ganja, ketika beberapa sahabatnya mencobanya.

Sahabat-sahabat saya ini memberikan saya pemahaman tentang perlunya berprinsip. Mungkin terkesan sepele, namun saya percaya, beberapa orang tua melupakan perlunya mendidik anak dengan prinsip.

Pada akhirnya, usaha mengekang dan mengancam seorang anak tidak akan berarti banyak. Semakin anak dikekang untuk bergaul, semakin ia penasaran untuk bergaul. Semakin anak dilarang untuk mencoba hal-hal yang tidak seharusnya ia coba, ia akan semakin tertantang dan penasaran. Ketika anak tidak diberikan pedoman hidup, ia tidak akan memahami mengapa sesuatu layak atau tidak layak dilakukan.

Agama, sebagaimana dibuktikan oleh sahabat-sahabat saya, adalah salah satu pedoman hidup yang kuat. Ketika seorang individual memiliki prinsip, dimana pun ia berada, ia tidak akan mudah tergoda. Selain itu, mungkin ada beberapa pegangan hidup lainnya yang belum saya temukan.

Love Lesson 101: Love Is Not A Game

Lily and Marshall taught me one simple love lesson that I, sometimes, well… most of times, forget.

(No, I don’t have friends name Lily and Marshall. And yes, they are the characters from How I Met Your Mother)

 

An episode shows how Marshall frequently used ‘win’ and ‘lose’ to determine how his argument against Lily goes. But later, the ‘ghost Lily’ character reminded him that no matter how happy he is to win, he would lose in the end. It was not losing argument that she meant, it WAS the fact that Marshall would lose Lily sooner or later if he keeps on picturing arguments in relationship as a ‘winning and losing situation’, (PS: ghost lily= Marshall’s dream).

THERE! It is what I most of the time forget. In a relationship, I should not count how many times Ilost arguments to prove that it is an unfair relationship.. I guess a mature couple do not fight against one another in order to win. It is not about whose argument wins, it is about finding what is BEST for both sides. Sometimes it is his argument, sometimes it is hers, or sometimes, it is a neutral solution both found.

 

Note:
I don’t use the word ‘fight’ and ‘conflict’ that sound more negative. It is normal to have a couple having arguments in a relationship. Two heads are not identical, right? It becomes NOT normal when it is an act to win, not to find what is best for both sides.